"Kisah Teladan Rasulullah SAW dengan Siti Khadijah"

~::*SAAT KHADIJAH JATUH CINTA PADA NABI MUHAMMAD SAW*::~
oleh Catatan-Catatan Muslimah Sholehah
(Melda) pada 12 Mei 2013 pukul 07:11
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
Wanita mana yang tidak
terpikat oleh pemuda seperti ini? Ia tampan, kaya, cerdas, keturunan orang
terhormat, dan paling mulia akhlaknya di Jazirah Arab. Menjelang tengah hari,
sebuah kafilah dagang dari negeri Syam tiba di Makkah. Tak lama kemudian
kafilah dagang itu memasuki pelataran sebuah rumah besar dan bagus.
Dari dalam terlihat seorang wanita berusia
bergegas ke luar dan menyambut kafilah dagang yang sangat dinantikannya. Dari
mimik mukanya tampak gurat-urat kegembiraan. Tak lama kemudian, terjadi
percakapan antara wanita yang bernama Siti Khadijah itu dengan Nabi Muhammad
bin Abdullah, pemuda yang memimpin kafilah dagang. Didengarkannya pemuda Nabi
Muhammad berbicara dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanan dagangnya
ke negeri Syam, serta keuntungan yang diperoleh dari perdagangan tersebut.
Demikian juga, Khadijah mendengar penjelasan Muhammad tentang barang-barang
dari Syam yang berhasil ia bawa beserta kafilahnya. Khadijah sangat gembira dan
terlihat antusias sekali mendengarkan cerita tersebut.
Sesaat kemudian datanglah Maisarah; orang
kepercayaan Khadijah yang menyertai Nabi Muhammad berdagang ke Syam. Ia pun
menceritakan pengalaman-pengalaman yang ditemuinya selama perjalanan. Semua
yang diceritakan Maisarah makin menambah pengetahuan Khadijah tentang Nabi
Muhammad. Sebelumnya, Khadijah pun tahu bahwa Nabi Muhammad adalah sosok
pemuda yang sangat mulia akhlaknya. Dalam waktu yang singkat, rasa simpati itu
berubah menjadi rasa cinta. Khadijah tertarik untuk menjadikan Nabi Muhammad
bin Abdullah sebagai pendamping hidup.
Apa yang menyebabkan Siti Khadijah simpati
lalu jatuh hati pada sosok pemuda Nabi Muhammad? Bukankah Khadijah adalah
seorang konglomerat wanita terkaya di Makkah saat itu, sedangkan nabi Muhammad
hanya seorang 'pemuda biasa'? Mengapa pula Khadijah 'berani' menjadikan Nabi
Muhammad sebagai suami, bahkan ia yang berinisiatif melamarnya, padahal
sebelumnya banyak pembesar Quraisy yang mengajukan lamaran, dan semuanya
ditolak?
Ada beberapa faktor penyebab. Pertama, faktor
kesepadanan atau kesekufuan. Adalah sesuatu yang wajar bila seseorang jatuh
cinta pada orang yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya daripada
perbedaan. Orang pun akan cenderung memilih pendamping hidup yang sekufu
(sederajat), baik dari sisi harta, ideologi, gaya hidup, keilmuan, dan
kepribadian.
Khadijah mencintai Rasulullah SAW, boleh jadi,
disebabkan karena Nabi Muhammad Rasulullah SAW memiliki banyak 'kesamaan'
dengan dirinya. Khadijah adalah wanita mulia,Nabi Muhammad SAW pun
seorang lelaki mulia, sehingga Khadijah pun cenderung memilih pendamping yang
akhlaknya mulia. Khadijah adalah seorang konglomerat, sedangkan Rasul seorang entrepreneur
dan marketer yang hebat. Rasul berasal dari keturunan orang-orang
terpandang, begitupun Khadijah. Kedua karakter yang memiliki banyak kesamaan
ini jelas lebih mudah bersatu. Di luar ketentuan Allah SWT, Khadijah tertarik
pada Rasulullah SAW karena beliau adalah seorang profesional. Sampai usia 25
tahun, Rasul telah melewati tahap-tahap kehidupan sebagai seorang profesional
di bidangnya (pedagang).
Mengkaji pribadi Rasulullah SAW, kita akan
mendapatkan jiwa entrepreneurship yang sudah dipupuk sejak usia 12
tahun, tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke
Syam, negeri meliputi: Suriah, Yordania, dan Lebanon saat ini. Demikian juga
sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya, Beliau telah
ditempa untuk tumbuh sebagai seorang wirausahawan yang mendiri. Maka ketika
pamannya tidak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17 tahun
Nabi Muhammad telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis
pamannya. Kedua, dilihat dari segi fisik Rasulullah SAW sangat sulit dikatakan
jelek. Muhammad Husein Haikal dalam bukunya Sejarah Hidup Nabi Muhammad dengan
baik menggambarkan bagaimana indahnya wajah Rasulullah SAW.
''Paras mukanya manis dan indah, perawakannya
sedang, tidak terlampau tinggi juga tidak pendek, dengan bentuk kepala yang
besar, berambut hitam antara keriting dan lurus. Dahinya lebar dan rata di atas
sepasang alis yang lengkung lebat dan bertaut, sepasang matanya lebar dan
hitam, di tepi-tepi putih matanya agak kemerah-merahan, tampak lebih menarik
dan kuat; pandangan matanya tajam dengan bulu mata yang hitam pekat. Hidungnya
halus dan merata dengan barisan gigi yang bercelah-celah. Cambangnya lebat sekali,
berleher agak panjang dan indah. Dadanya lebar dengan kedua bahu yang bidang.
Warna kulitnya terang dan jernih dengan kedua telapak tangan dan kakinya yang
tebal. Bila berjalan badannya agak condong ke depan, melangkah cepat, dan
pasti. Air mukanya membayangkan renungan dan penuh pikiran, pandangan matanya
menunjukkan kewibawaan, hingga membuat orang patuh kepadanya.''
Ketampanan Rasulullah SAW terasa makin lengkap
dengan gerak-geriknya yang menawan. Dikisahkan pula oleh Ummu Ma'bad bagaimana
sikap beliau, tatkala ia melihat Rasulullah SAW dalam perjalanan hijrah dari
Makkah ke Madinah: ''Aku melihat seorang lelaki dengan wajah berseri-seri dan
bercahaya... Jika ia diam maka tampaklah kharismanya. Jika sedang berbicara, ia
tampak begitu agung dan santun. Ia tampak paling muda dan paling rupawan bila
dipandang dari kejauhan, juga paling tampan dan memesona di antara
rombongannya.
Ucapannya menyejukkan, perkataannya jelas;
tidak sedikit dan tidak pula bertele-tele, sebagai buah dari kecerdasan. Beliau
adalah orang yang paling menarik dan kharismatik di antara ketiga sahabatnya
(Abu Bakar dan seorang penunjuk jalan).''
Keindahan perilaku Rasulullah SAW bersumber
dari kemuliaan akhlak dan kejernihan jiwa. Inilah faktor ketiga yang membuat
Khadijah jatuh cinta. Muhammad adalah sosok pemuda berakhlak mulia, bahkan
puncak dari akhlak yang mulia. Dengan karunia Allah SWT, dalam diri beliau
terkumpul semua akhlak terpuji yang dikenal manusia: kejujuran, kedermawan,
ataupun kelembutan. Tak ada satu sisi pun dalam diri beliau tanpa budi pekerti
yang luhur. Akhlak Rasulullah SAW adalah sebuah keistimewaan, hingga beliau
'meringkas' misi dakwahnya dalam sebuah hadis, ''Aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak mulia'' (HR Bukhari dan Hakim).
William Moir, seorang pujangga asal Prancis,
mengungkapkan bagaimana indahnya akhlak Rasulullah SAW. Ia berkata, ''Sederhana
dan mudah adalah gambaran seluruh hidupnya. Perasa dan adabnya adalah sifat
yang paling menonjol dalam pergaulan beliau dengan pengikutnya yang paling rendah
sekalipun. Tawadhu, sabar, penyayang, dan mementingkan orang lain lagi
dermawan adalah sifat yang selalu menyertai pribadinya dan menarik simpati
orang di sekitarnya. Tidak seorang pun di sampingnya yang merasa bahwa ia tidak
memperhatikannya secara khusus, meski orang itu adalah seorang gembel. Jika
bertemu dengan orang yang berbahagia karena suatu keberhasilan, maka ia
menggengam tangannya dan ikut merasakan kegembiraan. Jika bersama dengan orang
yang tertimpa musibah dan dirundung kesedihan, beliau pun ikut larut merasakan
kesedihan mereka. Beliau sangat perasa dan pandai menghibur.''Karenanya, wanita
mana yang tidak terpincut oleh pemuda seperti ini?
Semoga bermanfaat...
Oleh:Admin Andhika Al-Banjari Mtp
ƸӜƷ.¸¸¸.••..ƸӜƷ..••.¸¸¸.ƸӜƷ
Dan bilamana ada kata maupun penulisan yang
salah mohon di benarkan
Salah dan Hilaf andai ada kata yang kurang
berkenan mohon ma'afkan
Kami Hanya Insaniah fakir Hamba Allah yang
tiada daya dan Upaya
Dipersilahkan bagi yang ingin share or copas
jikalau bermanfa'at,
semuanya milik bersama
Bagi sahabat2 Muslimah Sholehah yang berminat
dan bersedia memberikan ilmunya berupa
catatan,
puisi, doa dan kisah yang dapat menambah
keimanan kita,
silahkan hubungi admin Andhika Al-Banjari Mtp
♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥♫♥♥♫♥♫♥.
Prinsip ABC
A mbil yang baik
B uang yang buruk
C iptakan yang baru
Keep Istiqomah wa HAMASAH
Salam Melblog
Posting Komentar untuk ""Kisah Teladan Rasulullah SAW dengan Siti Khadijah""
Silahkan berkomentar dengan Sopan
Posting Komentar